Hegemoni Maskulinitas dan Normalisasi Eksploitasi Ekonomi Terhadap Laki-Laki Kelas Pekerja

Hegemoni Maskulinitas dan Normalisasi Eksploitasi Ekonomi Terhadap Laki-Laki Kelas Pekerja

Prelude

Di pojok bangku besi mini market seorang pria menggenggam sebotol golda dengan tatapan kosong penuh kebingungan dan kesedihan. Gambaran ini bukanlah pemandangan yang asing dalam kehidupan sehari-hari kita. Fenomena ini seringkali kali kita jumpai sebagai konsekuensi dari adanya narasi “laki-laki tidak bercerita”, sebuah ungkapan yang akhir-akhir ini banyak bertebaran di meme-meme media sosial ataupun obrolan tongkrongan di kalangan laki-laki.

Narasi ini lambat laun menjelma jadi kewajaran yang diterima secara taken for granted dan dipraktikkan oleh sebagian besar kelompok laki-laki. Padahal sebenarnya ini hanyalah hasil dari konstruksi sosial tentang maskulinitas yang diciptakan dan diproduksi melalui perbedaan etnis, kelas, ras, seksualitas dan beroperasi pada agama, media, budaya, pendidikan, politik, dan agama yang menghasilkan ketidakadilan gender.

Maskulinitas dipahami sebagai derivasi dari beberapa bahasa salah satunya yaitu bahasa latin yaitu masculus yang artinya laki-laki. Kata maskulin juga sangat erat kaitannya dengan muscle (otot), jadi ketika diasosiasikan maka maskulin juga berarti keras, kuat, kejantanan, dan kelaki-lakian. Ungkapan “laki-laki tidak bercerita tapi minum golda” juga secara tidak langsung mengisyaratkan laki-laki yang tegar tidak rewel dan mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun, normalisasi imagi ideal tentang laki-laki yang tidak bercerita ini secara tidak langsung merupakan bentuk ketimpangan gender. Karena pada dasarnya sebagai manusia adalah hal yang wajar untuk berkeluh kesah tanpa tekanan karena hal tersebut merupakan kebutuhan emosional manusia. Penekanan emosi ini menurut beberapa studi berkorelasi dengan adanya ide bunuh diri. Dan itu tercermin dengan angka bunuh diri yang terus meningkat setiap tahunnya pada jenis kelamin laki-laki secara global, dan di Indonesia sendiri pada tahun 2021 dari 6544 kasus bunuh diri 5095 kasusnya terjadi pada laki-laki.

Melihat sebenarnya dampak ketidakadilan gender pada laki-laki cukup besar, akan tetapi studi gender yang membahas tentang laki-laki sangat sedikit, saya ingin mencoba mengulas lebih jauh tentang ketidakadilan gender pada laki-laki kelas pekerja melalui narasi maskulinitas salah satunya “laki-laki tidak bercerita tapi minum golda”. Menurut saya ini penting karena jika kita hanya membahas isu gender dalam perspektif perempuan atau isu-isu feminis saja maka kelompok laki-laki tidak akan mengindahkan isu tersebut, bahkan cenderung memanfaatkan kondisi tersebut untuk keuntungan pribadinya. Namun, ketika kita membahas isu gender dari persoalan laki-laki mungkin hal tersebut akan lebih relate untuk laki-laki dan pastinya diskursus gender dapat lebih berjalan seimbang sehingga cita-cita kesetaraan gender akan dimungkinkan tercapai. Esai ini berargumen bahwa maskulinitas hegemonik tidak hanya menindas perempuan, tetapi juga berfungsi sebagai mekanisme ideologis untuk menormalisasi eksploitasi ekonomi terhadap laki-laki kelas pekerja dalam sistem kapitalisme-neolib.

Hegemoni Maskulinitas dan Maskulinitas Marjinal

Maskulinitas seperti yang diketahui masuk dalam ranah gender yang artinya ia adalah konstruksi sosial—berbeda dengan seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang adalah konstruksi biologis. Jadi, dapat dipahami bahwa maskulinitas adalah stereotype tentang kelaki-lakian yang dibentuk oleh kehidupan bersosial dan berbudaya, dari waktu ke waktu, sehingga ia bersifat dinamis. Di beberapa literatur dibahasakan bahwa maskulinitas adalah distingsi dari karakter feminimitas, akan tetapi saya lebih sepakat dengan pernyataan Connel bahwa maskulinitas bukan hanya oposisi biner dari feminimitas ia adalah aspek dari struktur yang lebih besar, memiliki kompleksitas, multiplisitas dan tidak dalam kategori tunggal. Lebih lanjut Flood memetekan tiga gugus utama dari maskulinitas, yaitu; 1. maskulinitas yang mengacu pada imagi, ideal, wacana; 2. maskulinitas yang mengacu pada sifat yang membedakan laki-laki dan perempuan; 3. maskulinitas mengacu pada strategi laki-laki berkuasa dan melanggengkan kekuasaan.

Namun, salah satu imaji yang tenar dan diidealkan adalah maskulinitas kelas atas secara ekonomi, sebab maskulin tipe ini disebut dekat dengan karakter maskulin dominan, kompetitif, mandiri, bekerja keras, berstatus, dan berhasil. Mengapa begitu? karena dalam wacana populer imaji ini tidak hanya dibentuk oleh laki-laki, tetapi juga perempuan—dilansir dari Kompas, perempuan lebih menyukai laki-laki yang mapan secara penghasilan. Padahal seperti yang diketahui di Indonesia jumlah orang terkaya hanya 1% dari 287 juta jiwa. Meskipun hanya sekitar 1% penduduk Indonesia yang menguasai sebagian besar kekayaan nasional, imaji maskulinitas hegemonik tetap dibangun di sekitar standar kemapanan ekonomi tersebut, sehingga mayoritas laki-laki dituntut mengejar ideal yang secara struktural tidak mungkin mereka capai. Inilah yang disebut oleh Raewyn Connel sebagai hegemoni maskulinitas, yaitu adanya kelompok maskulinitas yang menepati posisi hegemonik yang brarti memiliki dominasi dalam relasi gender. Connel sendiri mendefinisikan hegemoni maskulinitas sebagai pola praktik gender yang diterima secara sosial sebagai standar untuk membenarkan sistem patriarki dengan menormalisasi dominasi laki-laki dan subordinasi perempuan serta kelompok laki-laki lain yang dianggap wajar.

Dalam kasus meme “laki-laki tidak bercerita tapi minum golda” mengisyaratkan tentang laki-laki yang miskin yang hanya bisa membeli minuman botol golda seharga 4000 rupiah dan duduk di sebuah minimarket dengan kursi besinya. Laki-laki miskin ini memilih bungkam diam tidak bercerita padahal salah satu faktor kemiskinannya adalah kegagalan negara dalam menciptakan lapangan kerja formal. Ia memilih bungkam dan diam tak melawan karena laki-laki dalam bentuk ini menurut Althusser telah terinterpelasi dan menjadi subjek dari ideologi maskulinitas yang menjadikannya patuh. Yang akhirnya negara dan elit kapitalis mendapatkan apa yang disebut oleh Connel sebagai patriarchal dividend, yaitu kenutungan material dan simbolik yang diperoleh kelompok maskulin dominan. Mereka—negara dan kaum kapitalis—lepas tangan dan tanggungjawab untuk menyediakan lapangan kerja yang stabil, dan justru mengeksploitasi laki-laki miskin kelas pekerja melalui dominasi ideologi maskulinnya.

Ini bukanlah omon-omon penulis, karena fakta dan data di lapangan memang seperti itu. Jumlah pekerja di Indonesia memang terus meningkat, akan tetapi sektor kerja yang mendominasi adalah sektor kerja informal yaitu sejumlah 84,13 juta atau 59,17% dari total penduduk yang bekerja, dan yang mendominasi pada sektor informal ini adalah laki-laki sejumlah 56,87%. Dalam keadaan ketidakstabilan penghasilan, jaminan sosial, serta kontrak kerja yang tidak pasti membuat laki-laki sangat rentan mengalami stres kerja. Dalam kondisi ketidakpastian seperti ini sekeras apapun laki-laki bekerja bahkan lebih keras daripada kalangan elit kapitalis, Ia akan tetap tidak dihargai atau menjadi dominan dalam posisi relasi gender. Inilah yang disebut oleh Connel sebagai Maskulinitas Marjinal, yaitu mereka yang meniru atau mengadopsi praktik-praktik maskulinitas hegemonik tapi ia terpinggirkan secara struktural akibat posisi, kelas, ekonominya sehingga ia tidak bisa mengakses kekuasaan maskulinitas hegemonik, meskipun memiliki praktik yang sama.

Maskulinitas Sebagai Teknologi Sistem Neoliberalisme

Lebih jauh lagi, maskulinitas laki-laki kelas pekerja ini juga dimanfaatkan sebagai teknologi sistem neoliberalisme. Friedrich Hayek sebagai nabi neolib mengungkapkan dasar dari adanya sistem neolib adalah adanya kompleksitas dalam sistem ekonomi dan masyarakat, sehingga ia berargumen bahwa pasar harus dibiarkan secara bebas mengatur dirinya sendiri. Masalahnya adalah sistem ini mengakui kompleksitas namun solusinya direduksi hanya dengan individualisme, tanggung jawab personal, dan rasionalitas ekonomi, lalu efeknya ketika beban sepenuhnya ditanggung indvidu adalah ketidakamanan hidup, ketidakstabilan pekerjaan, dan resiko yang personalisasi. Dalam kondisi ketidakpastian sistem neolib, maskulinitaslah yang menjadi ‘teknologi’ untuk mengelola ketidakpastian ini. Bagaimana itu terjadi?

Laki-laki dalam konstruksi maskulinitas memiliki kewajiban yang diafirmasi yaitu tanggungjawab dalam bekerja dan keluarga. Dalam tempat kerja mereka mengklaim maskulinitas tersebut melalui kompensasi finansial dan kemampuan menafkahi keluarga, mengekspresikan kekuasaan, dan menawarkan status tertentu atau keahlian dan pengendalian bidang tertentu. Namun, dalam situasi neolib yang mana pekerjaan menjadi tidak stabil dan beban ditanggung sendiri, sangat sedikit peluang untuk mewujudkan maskulintas yang diinginkan. Oleh karena itu, laki-laki kelas pekerja menegaskan maskulinitasnya di rumah atau keluarga dengan meluapkan kemarahannya, menuntut pasangan, mengontrol relasi intim, dan mengalihkan kegagalan struktural ke ranah personal. Jadi, laki-laki ketika menghadapi ketidakpastian dan kekacauan dalam sistem neolib ia tidak meluapkan kemarahannya ke sistem akan tetapi ia alihkan ke rumah, sehingga sistem neoliberlisme tetap aman dan bisa berlangsung hingga saat ini. Hal tersebut memang nyata bahwa kegagalan laki-laki dalam mewujudkan maskulinitas di dunia kerja, diwujudkan dalam ketegasan maskulinitasnya di rumah. Ini tercermin dengan data kekerasan dalam rumah tangga di Indonesia yang meningkat di tahun 2024 dengan total 28.789 kasus kekerasan, dari yang tahun sebelumnya adalah 18.466 kasus.

Jadi, pada dasarnya normalisasi maskulinitas hegemonik hanya akan menimbulkan dampak destruktif secara struktural. Sebab maskulinitas pada dasarnya masuk dalam kerangka budaya patriarki yang membenarkan adanya dominasi laki-laki, sehingga ketidaksetaraan, ketimpangan, dan ketidakadilan adalah keniscayaan. Dan oleh karena itu tatanan sosial yang bias gender akan selalu memproduksi kekerasan secara kultural dan struktural dan berbagai patologi sosial lainnya.

Refleksi

Dekonstruksi maskulinitas sangat berguna untuk membedah dan menoropong relasi gender yang timpang antara laki-laki dengan perempuan atau laki-laki dengan laki-laki. Diskursus tentang maskulinitas harus terus dibahas, karena tanpa adanya diskusi tentang kelaki-lakian menurut saya kesetaraan sulit dicapai, karena kalangan laki-laki tidak akan merasa relate dengan diskusi gender yang hanya berkutat pada feminimitas. Namun, agaknya sulit sekali dicapai kesetaraan bila kita masih terjerembab dalam sistem kapitalisme dan patriarki karena segala bentuk wacana baru tentang maskulin hanya akan dikomodifikasi menjadi komoditas baru yang akan diiklankan lewat citra-citranya dan menjadi imaji dominan kembali yang hanya akan menguntungkan para elit kapitalis. Dalam posisi nihil seperti ini penulis menyarankan untuk melakukan revolusi di grassroot berbasis komunitas yang aktif menyuarakan dan menyadarkan isu gender, sehingga bisa dimungkinkan untuk tumbuhnya kesadaran bottom-up yang dapat menekan kelas penguasa.

Ditulis oleh: Mohammad Bramantia Sesario

Daftar Pustaka

Aberth, Wilhelmina Alexandra Valmay Putri, and Wilhelmina Alexandra Valmay Putri Aberth. “Proporsi Pekerja Informal Indonesia Capai 59,17% Di 2024.” Good Stats, 2024. https://data.goodstats.id/statistic/proporsi-pekerja-informal-indonesia-capai-5917-di-2024-F1N9s#goog_rewarded.

Althusser, Louis. Tentang Ideologi Marxisme Strukturalis, Psikoanaalisis, Cultural Studies. Edited by 2. Percetakan Jalasutra, 2006.

ARLINTA, DEONISIA. “Angka Percobaan Bunuh Diri Pada Laki-Laki Lebih Tinggi.” KOMPAS.Id, 2023. https://www.kompas.id/artikel/angka-percobaan-bunuh-diri-lebih-tinggi-pada-laki-laki.

Darwin, Muhajir. “MASKULINITAS: Posisi Laki-Laki Dalam Masyarakat Patriarkis.” Center for Population and Policy Studies Gadjah Mada University, 1999, 1–7. file:///C:/Users/MyBook Hype AMD/Downloads/Maskulinitas posisi laki-laki dalam masyarakat patriarkis.pdf.

Drianus, Oktarizal. “HEGEMONIC MASCULINITY Wacana Relasi Gender Dalam Tinjauan Psikologi Sosial.” PSYCHOSOPHIA 1, no. 1 (2019): 36–50. file:///C:/Users/MyBook Hype AMD/Downloads/301036-hegemonic-masculinity-wacana-relasi-gend-b49577c4 (1).pdf.

———. “HEGEMONIC MASCULINITY Wacana Relasi Gender Dalam Tinjauan Psikologi Sosial.” PSYCHOSOPHIA 1, no. 1 (2019): 36–50.

Garlick, Steve. “Technologies of ( in ) Security : Masculinity and the Complexity of Neoliberalism (Terjemahan).” Feminist Theory 24(2) 170– (2023). https://doi.org/10.1177/14647001211046323.

Kurnia, Novi. “Representasi Maskulinitas Dalam Iklan.” Jurnal Ilmu Sosial Dan Politik 8 (2004): 1–20. file:///C:/Users/MyBook Hype AMD/Downloads/maskulinitas .pdf.

Kurnianingrum, Trias Palupi. “URGENSI PELINDUNGAN TERHADAP KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA.” INFO SINGKAT XVII, no. 1 (2025): 1–5. https://berkas.dpr.go.id/pusaka/files/info_singkat/Info Singkat-XVII-1-I-P3DI-Januari-2025-214.pdf.

Moreno-bella, Eva, Guillermo B Willis, and Miguel Moya. “Economic Inequality and Masculinity – Femininity : The Prevailing Perceived Traits in Higher Unequal Contexts Are Masculine (Terjemahan).” Frontiers in Psychology 10, no. July (2019): 1–9. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2019.01590.

Nauvalif, Alifia Putri Yudanti dan Rizky. “Apakah Benar Wanita Lebih Tertarik Dengan Pria Kaya?” Kompas.Comx, 2023. https://lifestyle.kompas.com/read/2023/03/15/130000720/apakah-benar-wanita-lebih-tertarik-dengan-pria-kaya-?page=all .

Shafira, Ridna, Zurratul Muna, Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Malikussaleh, Jl Cot, Tengku Nie, Muara Batu, and Aceh Utara Indonesia. “Hubungan Regulasi Emosi Dengan Ide Bunuh Diri Pada Remaja Sekolah Menengah Kejuruan ( SMK ).” INSIGHT: Jurnal Penelitian Psikologi 1, no. 3 (2023): 438–45. https://doi.org/Vol. 1, No. 3 (2023): pp. 438-445.

Syakirun Ni’am, Erlangga Djumena. “Menko PM Cak Imin: 1 Persen Orang Terkaya Kuasai Hampir 50 Persen Kekayaan Nasional.” Kompas.Com, 2025. https://money.kompas.com/read/2025/11/20/130900426/menko-pm-cak-imin--1-persen-orang-terkaya-kuasai-hampir-50-persen-kekayaan.