Berkah Menjadi Ideologi: Membaca Kuasa Kyai di Pesantren Tradisional
Berkah Menjadi Ideologi: Membaca Kuasa Kyai di Pesantren Tradisional
Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai lembaga pendidikan yang paling banyak terdapat kasus kekerasan seksual, yaitu mencapai 17,52%.[1] Hal ini sangatlah ironi, melihat peran pesantren yang seharusnya menciptakan insan yang bermoral dan memiliki nilai-nilai spiritual, akan tetapi justru melakukan tindakan-tindakan yang amoral seperti pemerkosaan, pencabulan, dan pelecehan. Lebih lagi seringkali pelaku kekerasan seksual justru adalah seorang pengajar dari pesantren tersebut yaitu Kiai atau Gus (anak dari kiai).[2] Salah satu penyebab dari tindak kekerasan seksual di pesantren ini yaitu relasi kuasa gender yang timpang antara laki-laki dan perempuan, yang mana pesantren cenderung menganut dan melestarikan budaya tersebut yaitu patriarki (menempatkan posisi laki-laki sebagai pihak yang lebih mendominasi, menindas, dan mengeksploitasi terhadap kaum peremmpuan).[3] Sehingga dalam posisi perempuan yang rentan tersebut sangat dimungkinkan untuk terjadinya kekerasan seksual.
Namun, data yang saya catut sebenarnya hanyalah data yang dilaporkan saja, karena banyak sekali kasus kekerasan seksual terutama di pesantren yang belum terungkap. Hal tersebut disebabkan oleh ketakutan korban untuk speak up yang karena mendapat intimidasi ataupun tekanan-tekanan dari pelaku ataupun pihak lain, selain itu kasus kekerasan seksual juga terkesan ditutup-tutupi agar tidak memperburuk citra pesantren dan menjaga martabat serta kehormatan pelaku dan keluarga pelaku. Tak hanya perempuan terkadang korban dari kekerasan seksual di pesantren juga adalah santri laki-laki.[4]
Selain kekerasan seksual, problem lain di pesantren tradisonal akibat dari kuasa Kyai yang patriarkal adalah komodifikasi agama ke dalam politik identitas.[5] Kyai atau sejenisnya sekarang ini banyak yang menggunakan privilege otoritas kharimastik yang ia punya untuk memengaruhi santri dan wali santrinya agar mengikuti pilihan politiknya.[6] Mereka seringkali menggunakan frasa nderek kiai untuk membentuk dan memengaruhi sikap politik santri, karena frasa ini mencerminkan penggunaan tradisi dan otoritas agama untuk melegitimasi dukungan politik.[7]
Dari fenomena-fenomena tersebut saya terpantik untuk membongkar lebih lanjut terkait kuasa kyai di pesantren tradisional. Namun, sebelum itu saya ingin menjelaskan terlebih dahulu konsep-konsep Althusser guna analisis kuasa kyai di pesantren tradisional.
Sekilas tentang Ideologi
Marx mengatakan bahwa ideologi adalah sistem gagasan dan pelbagai representasi yang mendominasi benak manusia atau kelompok sosial yang menjadi kesadaran palsu. Althusser mengatakan bahwa pengertian yang demikian itu terlalu sederhana. Menurut Althusser ideologi merepresentasikan relasi individu yang imajiner pada kondisi-kondisi nyata dari eksistensinya. Simpelnya ideologi adalah cerita atau gambaran mental yang kita gunakan untuk memahami dan menerima kondisi nyata tempat kita hidup. Lalu kenapa hubungan imajiner ada? Ia ada bukan karena tipuan pengusaha atau pun raja-raja, akan tetapi relasi imajiner ada karena alienasi material yang menguasai kondisi-kondisi manusia sendiri yang menuntut kita untuk mencari cara memaknai agar kita bisa terus hidup. Ideologi memiliki wujud material yang terejawantah dalam sebuah “apparatus” dan di dalam “praktik-praktik” yang dilakukan.[8]
Individu menjalankan ideologi dengan percaya dan bertindak, seseorang yang percaya pada ideologi tertetu akan secara otomatis bertindak atau melakukan praktik-praktik tertentu. Dengan melakukan tindakan atau praktik tersebut secara sadar (walaupun di bawah aturan ideologi), individu tersebut menjadikan dirinya sebagai subjek yang bebas, oleh karena itu ia harus menginskripsikan ide-ide miliknya ke dalam tindakan-tindakan dari praktik materialnya. Dan akhirnya ide (yang ada di kepala) tersebut menghilang, tapi sepenuhnya telah menjadi tindakan fisik yang diatur oleh sebuah apparatus.[9]
Dalam suatu negara untuk menjaga keberlangsungan produksi dan relasi produksi negara memiliki aparatus. Lalu membedakannya menjadi dua jenis fungsi; a.) Repressive state aparatus yang bekerja dengan cara represif lewat penggunaan kekerasan, b.) Ideological state aparatus yang bekerja dengan cara persuasif ideologis. Kemudian interpelasi adalah ketika ideologi bertindak dengan suatu cara untuk merekrut subjek-subjek atau mengubah individu menjadi subjek melalui operasi memanggil subjek tersebut.
Pesantren sebagai Ideological State Apparatus
Pesantren tradisional memiliki tiga fungsi utama: pertama, sebagai lembaga transmisi dan transfer ilmu-ilmu Islam; kedua, sebagai penjaga dan pemelihara tradisi keislaman; dan ketiga, sebagai ruang reproduksi ulama.[10] Dalam konteks makro, pesantren dapat dibaca sebagai bagian dari Ideological State Apparatus (ISA) sebagaimana dikemukakan oleh Althusser. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana kyai—sebagai figur sentral pesantren—menggunakan otoritasnya untuk membentuk kesadaran santri agar sejalan dengan nilai-nilai, norma, bahkan kepentingan kelas sosial tertentu yang berkuasa.
Pesantren tidak hanya berfungsi mentransmisikan pengetahuan agama (know what), tetapi juga menanamkan know how—yakni bagaimana pengetahuan itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari dengan kepatuhan dan ketundukan terhadap otoritas kyai. Dengan demikian, proses pendidikan di pesantren menjadi sarana reproduksi ideologi: ia mengajarkan keterampilan religius dan moral yang sekaligus memastikan kelangsungan tatanan sosial dan ideologis yang dominan. Yang akhirnya mencetak para ulama yang sama dengan idelogi penguasa. Dalam kerangka Althusserian, praktik pendidikan pesantren tidak netral, melainkan merupakan bentuk praksis ideologis yang secara halus menanamkan nilai-nilai kepatuhan, penghormatan terhadap hierarki, dan penerimaan terhadap struktur kuasa yang ada.
Berkah sebagai Interpelasi Ideologis
Berkah diartikan sebagai sifat bertambahnya kebaikan pada sesuatu. Kemudian tindakan mengharapkan berkah dinamakan tabarruk. Proses mencari berkah ini artinya melakukan sesuatu untuk mendapatkan kebaikan yang banyak, seperti kesembuhan, kelancaran rezeki, kemudahan, dengan mengaggungkan orang saleh.[11] Menurut saya pratik berkah dan tabaruk di pesantren tradisional adalah sebuah ideologi religius tersendiri yang berlaku di pesantren-pesantren tradisional.
Ideologi seperti yang dikatakan di awal adalah sebuah relasi imajiner individu dengan kondisi nyata. Menurut saya berkah adalah relasi imajiner itu sendiri, yang memberi makna hubungan antara santri dan Kyai. Kemudian karena kepercayaan terhadap berkah, para santri akan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku untuk melakukan tabarruk tersebut secara otomatis. Ketika melakukannya secara sadar maka santri tersebut akan menjadi subjek yang bebas, akan tetapi pilihannya tetap pada aturan ‘berkah’ yang ada di pesantren tersebut. Perekrutan menjadi subjek inilah yang dinamakan interpelasi. Yaitu ketika santri seakan-akan dipanggil melalui ‘berkah’ berseru kepada para santri “hei jika kamu ingin hidupmu selamat, ilmunya bermanfaat, dan mendapat ridho, datang dan ngalaplah berkah”. Kemudian santri akan menjawab panggilan tersebut missal dengan istilah santri yaitu sami’na waato’na, ya saya mendengar dan saya taat.
Namun, kondisi ini tidak akan terjadi bila tidak ada Subjek lain yang utama & unik, atau dinamakan Subjek par excellene. yaitu Kyai itu sendiri.yang sosoknya menjadi pusat atau model bagi subjek lainnya yaitu para santri. Santri secara sukarela menempatkan dirinya pada posisi yang patuh pada kiai, sebab kiai diposisikan sebagai sumber dari berkah yang ia cari. Dengan syarat itu terdapat jaminan mutlak segala sesuatunya berjalan lancer, ilmunya bermanfaat, rezekinya berlimpah, dll.
Kesimpulan
Oleh karena itu, jika kuasa kyai dipandang dari kacamata Althusser tentang ideologi maka kepatuhan santri terhadap kiai adalah hal yang mutlak, karena santri telah menjadi subjek-subjek Kiai melalui konsep berkahnya. Dengan demikian, setiap bentuk kepatuhan terhadap kyai tidak lagi semata-mata tindakan religius, melainkan hasil dari proses ideologis yang telah meresap ke dalam kesadaran santri. Pada titik ini kita juga bisa melihat bahwasanya kenapa kekerasan seksual di pesantren bisa terjadi dan seringkali tidak dilaporkan adalah karena subjek dengaan s kecil yaitu santri tidak bisa melakukan distorsi atau melawan relasi imajiner yang ada pada pesantren, sebab dalam kesadaran ideologis tersebut, melawan kyai berarti melawan “berkah,” dan pada akhirnya dianggap melawan Tuhan. Ideologi bekerja sedemikian halus sehingga rasa takut dan rasa hormat bercampur menjadi mekanisme penundukan yang efektif tanpa perlu kekerasan terbuka. Oleh karena itu, perlu ada pembacaan kritis terhadap relasi kuasa di pesantren agar konsep “berkah” dapat kembali ke makna spiritualnya yang membebaskan, bukan justru menjadi ideologi yang membelenggu. Hanya dengan kesadaran seperti ini, pesantren bisa menjadi ruang pendidikan yang benar-benar memanusiakan, bukan menghegemoni.
Mohammad Bramantia Sesario - Ketua Labsos
Refrensi
Althusser, Louis. Tentang Ideologi Marxisme Strukturalis, Psikoanaalisis, Cultural Studies. Edited by 2. Percetakan Jalasutra, 2006.
Anugrah, Yeshinta Varadella. “HEGEMONI KYAI TERHADAP SANTRI,” 2015, 1–6.
Beadie, Achmad, and Busyroel Basyar. “Konsep Berkahdalam Epistemologi Islam” 12, no. 2 (2022): 16–26.
Dr. Nurcholish Madjid. Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan. PARAMADINA, 1997.
Fauz, Rawendra Ahmad. “Kekerasan Seksual Di Pesantren Perspektif Gender Pendidikan Di Luar Kota . Lembaga Pendidikan Yang Seharusnya Berdasarkan Data Dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Menyatakan Bahwasannya Kekerasan Seksual Di” 4, no. 117 (2023).
Hariyanto, Didik. Komodifikasi Agama Dalam Politik Identitas, 2024.
Komnas Perempuan. “Siaran Pers Komnas Perempuan Memastikan Ketidakberulangan Kekerasan Seksual Di Lembaga Pendidikan Pesantren.” 2025. https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-memastikan-ketidakberulangan-kekerasan-seksual-di-lembaga-pendidikan-pesantren.
Muttaqin, Adhar. “Kiai Di Trenggalek Dan Anak Kembali Terjerat Kasus Asusila.” Detikjatim, 2025. https://www.detik.com/jatim/hukum-dan-kriminal/d-8115450/kiai-di-trenggalek-dan-anak-kembali-terjerat-kasus-asusila.
Pesantren, D I Pondok. “Kekerasan Seksual Di Pondok Pesantren,” 2025.
Pratama, Nanda. “Ideologi Dalam Kacamata Louis Althusser.” Kumparan.Com, 2023. https://kumparan.com/devanpratamajmb/ideologi-dalam-kacamata-louis-althusser-21Jr60w1qZB/full.
Rizqya, Fatikhatur, and Nadya Afdholy. “Nderek Kiai : Santri Dalam Ideologi Politik Indonesia 2024 Nderek Kiai : Santri in the 2024 Indonesian Political Ideology Nderek Kiai : Santri Dalam Ideologi Politik Indonesia 2024 Nderek Kiai : Santri in the 2024 Indonesian Political Ideology Bernegara Dan Indonesia Baru Saja Merayakan Valentine Demokrasinya Yang Umum , Tetapi Peran Dan Kontribusi Banyak Pihak , Termasuk Seluruh Rakyat , Juga,” no. October (2024). https://doi.org/10.31503/madah.v15i2.820.
[1] “Siaran Pers Komnas Perempuan Memastikan Ketidakberulangan Kekerasan Seksual Di Lembaga Pendidikan Pesantren,” Komnas Perempuan, 2025, https://komnasperempuan.go.id/siaran-pers-detail/siaran-pers-komnas-perempuan-memastikan-ketidakberulangan-kekerasan-seksual-di-lembaga-pendidikan-pesantren.
[2] Adhar Muttaqin, “Kiai Di Trenggalek Dan Anak Kembali Terjerat Kasus Asusila,” Detikjatim, 2025, https://www.detik.com/jatim/hukum-dan-kriminal/d-8115450/kiai-di-trenggalek-dan-anak-kembali-terjerat-kasus-asusila.
[3] Rawendra Ahmad Fauz, “Kekerasan Seksual Di Pesantren Perspektif Gender Pendidikan Di Luar Kota . Lembaga Pendidikan Yang Seharusnya Berdasarkan Data Dari Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan Menyatakan Bahwasannya Kekerasan Seksual Di” 4, no. 117 (2023).
[4] D I Pondok Pesantren, “Kekerasan Seksual Di Pondok Pesantren,” 2025.
[5] Didik Hariyanto, Komodifikasi Agama Dalam Politik Identitas, 2024.
[6] Yeshinta Varadella Anugrah, “HEGEMONI KYAI TERHADAP SANTRI,” 2015, 1–6.
[7] Fatikhatur Rizqya and Nadya Afdholy, “Nderek Kiai : Santri Dalam Ideologi Politik Indonesia 2024 Nderek Kiai : Santri in the 2024 Indonesian Political Ideology Nderek Kiai : Santri Dalam Ideologi Politik Indonesia 2024 Nderek Kiai : Santri in the 2024 Indonesian Political Ideology Bernegara Dan Indonesia Baru Saja Merayakan Valentine Demokrasinya Yang Umum , Tetapi Peran Dan Kontribusi Banyak Pihak , Termasuk Seluruh Rakyat , Juga,” no. October (2024), https://doi.org/10.31503/madah.v15i2.820.
[8] Nanda Pratama, “Ideologi Dalam Kacamata Louis Althusser,” Kumparan.Com, 2023, https://kumparan.com/devanpratamajmb/ideologi-dalam-kacamata-louis-althusser-21Jr60w1qZB/full.
[9] Louis Althusser, Tentang Ideologi Marxisme Strukturalis, Psikoanaalisis, Cultural Studies, ed. 2 (Percetakan Jalasutra, 2006).
[10] Dr. Nurcholish Madjid, Bilik-Bilik Pesantren Sebuah Potret Perjalanan (PARAMADINA, 1997).
[11] Achmad Beadie and Busyroel Basyar, “Konsep Berkahdalam Epistemologi Islam” 12, no. 2 (2022): 16–26.