Kuliah Umum Prodi Sosiologi: “Menjadi Gen Z di Era Algoritma: Identitas, Relasi Sosial, dan Mas Depan Masyarakat”
foto kegiatan
Kuliah Umum Prodi Sosiologi:
“Menjadi Gen Z di Era Algoritma: Identitas, Relasi Sosial, dan Mas Depan Masyarakat”
Selasa, 15 September 2026, di Internasional Room, Fishum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prodi Sosiologi melaksanakan kuliah umum bertema: “Menjadi Gen Z di Era Algoritma: Identitas, Relasi Sosial dan Masa Depan Masyarakat.”Dalam Sambutnya, Dr. Napsiah menyampaikan bahwa Tema ini dipandang penting untuk dibahas, terutama karena mahasiswa kami yang berjumlah 149 merupakan bagian dari Generasi Z yang sangat dekat dengan teknologi. Khususnya media sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana memperoleh informasi dan hiburan, tetapi juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berinteraksi, membangun pertemanan, mengikuti berbagai aktivitas, serta mengekspresikan diri. Namun, di balik berbagai kemudahan dan manfaat yang ditawarkan media sosial, terdapat persoalan yang perlu kita sikapi secara kritis agar jangan sampai kita sebagai pengguna menjadi “budak teknologi”. Karena itu, Kami menghadirkan narasumber Dr. Oki Rahadianto Sutopo untuk membuka ruang diskusi bersama mahasiswa mengenai bagaimana seharusnya seorang sosiolog bersikap bijak dalam menggunakan teknologi.
Wakil bidang Akademik, Bu Ambar Sari Dewi, menyampaikan sambutannya bahwa kegiatan ini rutin dilakukan untuk menambah wawasn mahasiwa. Karena itu, mahasiswa diminta untuk berdiskusi dengan pakarnya yakni, Dr. Phil. Oki Rahadianto Sutopo seorang sosiologi dari UGM yang handal di bidang kepemudaan. Sambutan tersebut sekaligus membuka acara kuliah Umum Prodi Sosiologi tahun 2026.
Acara ini dipandu oleh bu Dwi Nur Laela Fithrya, M.A. terlebih dahulu memperkenalkan narasumber sebelum menyampaikan materi. Dalam pemaparannya Dr. Oki mengungkapkan bahwa Generasi Z dengan menggunakan Teori kepemudaan melihat pemuda sebagai kelompok sosial yang berada dalam fase transisi menuju kedewasaan. Pemuda tidak hanya dipahami berdasarkan usia, tetapi juga berdasarkan pengalaman sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, serta keterlibatannya dalam masyarakat. Generasi Z (Gen Z), yang umumnya merujuk pada mereka yang lahir sekitar akhir 1990-an hingga awal 2010-an, memiliki karakteristik yang berbeda karena tumbuh dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi teknologi digital dan media sosial
Beberapa teori yang dapat digunakan untuk menganalisis Gen Z: Teori Generasi – Karl Mannheim. Mannheim menjelaskan bahwa generasi dibentuk oleh pengalaman sejarah dan kondisi sosial yang dialami bersama. Gen Z tumbuh dalam era internet, smartphone, media sosial, serta perubahan ekonomi dan sosial yang cepat. Pengalaman tersebut dapat membentuk cara mereka berkomunikasi, belajar, bekerja, dan berpartisipasi dalam masyarakat. Teori Perkembangan Pemuda (Youth Development).
Teori ini memandang pemuda sebagai individu yang memiliki potensi untuk berkembang melalui pendidikan, pengalaman, hubungan sosial, dan keterlibatan dalam lingkungan. Dalam konteks Gen Z, teknologi digital dapat menjadi sarana untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan, kewirausahaan, dan partisipasi sosial. Teori Subkultur Pemuda
Teori ini melihat pemuda sebagai kelompok yang dapat membentuk nilai, gaya hidup, bahasa, dan identitas yang berbeda dari generasi sebelumnya. Pada Gen Z, subkultur tersebut banyak berkembang melalui komunitas digital, seperti fandom, komunitas gim, kreator konten, dan berbagai komunitas di media sosial. Teori Partisipasi Pemuda
Teori ini menekankan keterlibatan pemuda dalam kehidupan sosial dan masyarakat. Gen Z dapat berpartisipasi bukan hanya melalui organisasi atau kegiatan formal, tetapi juga melalui media digital, misalnya membuat konten edukatif, melakukan kampanye sosial, berdiskusi mengenai isu publik, atau menggalang dukungan terhadap suatu gerakan.
Dengan demikian, Gen Z dapat dipahami sebagai generasi muda yang terbentuk oleh kondisi sosial dan teknologi pada zamannya. Teori Mannheim dapat digunakan untuk menjelaskan pengaruh pengalaman sejarah terhadap karakter Gen Z, sedangkan teori perkembangan, subkultur, dan partisipasi pemuda dapat digunakan untuk melihat potensi, identitas, serta peran Gen Z dalam masyarakat.
Selanjutnya di era Algoritma adalah habitus mesin. Frasa “mempertimbangkan habitus mesin” bisa dimaknai sebagai mempertimbangkan kebiasaan, kecenderungan, atau pola perilaku yang melekat pada suatu mesin/sistem.
Jika dalam konteks teori sosial atau filsafat, habitus biasanya merujuk pada pola disposisi yang terbentuk melalui pengalaman dan praktik berulang. Maka, “habitus mesin” dapat dipakai secara metaforis untuk membahas kecenderungan bawaan atau pola operasional mesin yang memengaruhi cara ia bekerja dan berinteraksi dengan manusia.
Sesi tanya jawab, direspons oleh mahasiswa dengan sangat antusias. Peserta memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis dan direspon oleh narasumber dengan sangat baik dan uraian yang jelas. Acara tersebut diakhiri dengan pemberian setifikat kepada narasumber dan moderator sebagai bentuk apresiasi Prodi Sosiologi. Acara ini menambah pengetahuan yang sangat berati bagi peserta. Semoga kerjasama ini akan terus berlanjut.