Belajar Etnografi Bersama Dosen Tamu dari Jerman, Mahasiswa Sosiologi Diajak Memahami Realitas dari Berbagai Perspektif

Belajar Etnografi Bersama Dosen Tamu dari Jerman, Mahasiswa Sosiologi Diajak Memahami Realitas dari Berbagai Perspektif

Pada Kamis, 8 Oktober 2026, Program Studi Sosiologi menyelenggarakan Workshop Praktik Penelitian Sosial dengan menghadirkan dosen tamu dari Jerman, Dr. Michael Helmbrecht. Kegiatan ini diikuti oleh 91 mahasiswa Sosiologi yang antusias mendalami etnografi sebagai salah satu pendekatan penting dalam penelitian sosial. Melalui pemaparan pengalaman penelitian dan diskusi interaktif, mahasiswa diajak memahami bahwa berbagai fenomena yang terjadi di sekitar kita menyimpan persoalan sosial yang menarik untuk dikaji lebih dalam.

Dalam workshop tersebut, Dr. Michael Helmbrecht menekankan bahwa penelitian sosial tidak cukup hanya dengan melihat apa yang tampak di permukaan. Seorang peneliti perlu memahami makna di balik tindakan masyarakat, menelusuri pengalaman hidup mereka, serta menggali alasan yang mendasari perilaku sosial. Untuk menjelaskan hal tersebut, ia membagikan pengalaman penelitiannya tentang sekelompok tentara di Polandia yang ditugaskan untuk berperang, tetapi justru menghabiskan waktu dengan duduk, mengamati, dan memperhatikan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Dari pengamatan tersebut, mereka menemukan sebuah fenomena sederhana yang ternyata menyimpan persoalan sosial yang kompleks. Para perempuan di wilayah itu harus menempuh jarak yang cukup jauh untuk memperoleh air. Mereka membawa air dengan menjunjung wadah di kepala karena sumber mata air berada jauh dari permukiman. Melihat kondisi tersebut, para tentara berinisiatif, melalui kepala desa, untuk membangun sumur agar perempuan tidak lagi harus menempuh perjalanan jauh demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Secara sepintas, inisiatif tersebut tampak sebagai solusi yang baik. Masyarakat dapat memperoleh akses air dengan lebih mudah, sementara laki-laki merasa senang karena tidak lagi harus menyaksikan perempuan mengalami kesulitan mengambil air setiap hari. Namun, di luar dugaan, para perempuan justru melakukan tindakan vandalisme dengan menutup sumber mata air dan menolak pembangunan sumur-sumur baru.

Mengapa perempuan justru menolak kemudahan yang seharusnya membantu mereka?

Pertanyaan inilah yang kemudian mengantarkan mahasiswa pada diskusi yang menarik. Sejumlah mahasiswa menjawab dengan lantang bahwa fenomena tersebut menunjukkan adanya diskriminasi terhadap perempuan. Mahasiswa lainnya berpendapat bahwa telah terjadi marginalisasi terhadap perempuan. Berbagai jawaban tersebut diapresiasi oleh Dr. Michael Helmbrecht sebagai bagian dari proses berpikir kritis dalam memahami realitas sosial. Namun, menurut Dr. Michael Helmbreacht, fenomena tersebut perlu dipahami lebih jauh dengan melihat kehidupan para perempuan dari perspektif mereka sendiri. Pembangunan sumur memang mempermudah akses terhadap air, tetapi perubahan itu juga menghilangkan ruang interaksi sosial yang selama ini terbentuk di sekitar aktivitas mengambil air. Sebelumnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para perempuan untuk bertemu, berbincang, bertukar cerita, berbagi pengalaman, dan mengetahui kondisi satu sama lain. Aktivitas sehari-hari yang tampak melelahkan itu ternyata juga memiliki makna sosial yang penting dalam kehidupan mereka.

Ketika sumber air menjadi mudah dijangkau, ruang perjumpaan tersebut ikut menghilang. Para perempuan kehilangan salah satu kesempatan untuk membangun dan memelihara relasi sosial, sekaligus ruang untuk mengekspresikan diri. Dalam konteks ini, tindakan yang sekilas tampak tidak masuk akal justru membuka peluang bagi peneliti untuk memahami adanya dimensi sosial dan budaya yang tidak terlihat dari luar.

Melalui cerita tersebut, Dr. Michael Helmbrecht mengajak mahasiswa menyadari bahwa suatu tindakan tidak dapat dipahami hanya berdasarkan penilaian orang luar. Apa yang dianggap sebagai kemajuan oleh satu pihak belum tentu dimaknai dengan cara yang sama oleh pihak lain. Karena itu, peneliti sosial harus berusaha memahami bagaimana masyarakat memaknai pengalaman dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan mereka. “Melihat fenomena harus dari pihak yang diteliti,” tegas. Dr. Michael Helmbrecht . Ia menekankan pentingnya bagi peneliti untuk mendekatkan diri dengan masyarakat yang diteliti, melakukan observasi, serta berusaha memasuki cara berpikir mereka. Peneliti tidak boleh terburu-buru menarik kesimpulan berdasarkan asumsi pribadi atau hanya menggunakan satu perspektif. Sebaliknya, setiap pernyataan dan kesimpulan harus dibangun berdasarkan data yang diperoleh melalui proses penelitian yang cermat.

Lebih jauh, Dr. Michael Helmbrecht menegaskan bahwa rasa penasaran merupakan modal utama seorang sosiolog. Kepekaan terhadap fenomena sosial perlu disertai keinginan untuk terus bertanya, menggali, dan menemukan penjelasan di balik berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat. “Berhenti menjadi sosiolog kalau tidak penasaran,” ungkap Dr. Michael Helmbrecht, menegaskan pentingnya rasa ingin tahu dalam kerja-kerja penelitian sosial dan memotivasi mahasiswa Sosiologi Fishum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam workshop ini. Bagi mahasiswa Sosiologi, mempelajari etnografi bukan sekadar memahami metode penelitian, melainkan juga melatih kepekaan untuk melihat realitas dari berbagai sudut pandang, mendengarkan pengalaman masyarakat, dan memahami makna yang terkandung di balik tindakan sosial.

Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Program Studi Sosiologi, Andri Rosadi, Ph.D., dengan Ardiansyah, penerima Student Mobility Award UIN Sunan Kalijaga–Malaya, bertindak sebagai moderator. Dihadari oleh Dosen Sosiologi di antaranya Dr. Napsiah, Dwi Nur Lalela Fithtrya, M.A., Nisrina Muthahari, M.A. dan Kanita Khoirun Nisa, M.A.. Diskusi berlangsung dinamis dengan respons mahasiswa yang antusias. Pengarahan dari pembicara, pembukaan oleh sekretaris program studi, serta kemampuan moderator dalam menghidupkan diskusi turut menciptakan suasana belajar yang interaktif dan mendorong mahasiswa untuk terlibat aktif dalam memahami materi.

Workshop ditutup dengan penyerahan cendera mata kepada narasumber dan sesi foto bersama Dr. Michael Helmbrecht serta para mahasiswa Sosiologi yang mengikuti kegiatan tersebut. Lebih dari sekadar forum berbagi pengetahuan, workshop ini menjadi ruang belajar yang mempertemukan teori sosiologi dengan pengalaman nyata penelitian lapangan. Melalui etnografi, mahasiswa diajak untuk tidak berhenti pada apa yang terlihat, tetapi terus menggali makna, memahami konteks, dan mendengarkan suara masyarakat yang diteliti.

Pengalaman ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa penasaran dan semangat penelitian di kalangan mahasiswa Sosiologi. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya memperkaya pemahaman mahasiswa tentang praktik penelitian sosial, tetapi juga memperkuat orientasi Program Studi Sosiologi dalam mencetak lulusan yang mampu menjadi peneliti sosial yang kritis, peka, dan bertanggung jawab terhadap realitas masyarakat.